Kenapa Banyak Hoax Bertebaran?
http://indonesiana.tempo.co/read/44021/2015/07/11/ditahan/kenapa-banyak-hoax-bertebaran#.VaHM2_n-LqA
Dua puluh tahun lalu, McArthur Wheeler memutuskan merampok bank. Wheeler, warga Pitshburg US, yang kala itu umur 44 tahun dengan pede merampok bank dengan bekal utama perasan air lemon. Hipotesis Wheeler sederhana, air perasan lemon, bisa digunakan sebagai tinta yang tak terlihat (invisible ink). Jika perasan air lemon dituliskan pada sebuah kertas, maka tulisannya tak terbaca. Tulisan itu baru bisa dibaca kalau didekatkan dengan panas.
Nah, Wheeler melumuri kepalanya dengan perasan air lemon. Dalam benak Wheeler, wajahnya jadi tak terlihat jika dilumuri perasan air lemon. Sebagai percobaan, ia mengambil swafoto (selfie) dengan kamera Polaroid. Entah kameranya yang sedang rusak, atau sebab lain, tapi hasil foto itu tak bisa menampilkan wajah Wheeler. Wheeler makin yakin dan percaya absolut dengan resepnya. Walau dia tak paham dengan kimia, dia mantap merampok bank dengan perasan air lemon.
Di hari itu, Wheeler akhirnya merampok bank. Tanpa topeng apalagi penutup kepala. Tak hanya merampok satu bank, tapi dua sekalian. Wheeler bisa membawa banyak uang. Sekaligus terkenal. Sebab, kamera pengintai bank bisa merekam wajahnya. Selang beberapa jam usai beraksi, wajahnya sudah nongol di layar kaca, dengan jelas. Alhasil, wajah itu mudah dikenali sebagai McArthur Wheeler. Di hari yang sama, polisi bisa menangkap Wheeler dengan mudah.
Kebodohan Wheeler ini menarik dua peneliti psikologi sosial dari Cornell University; David Dunning dan Justin Kruger. Keduanya tertarik, apa yang menyebabkan Wheeler begitu percaya diri merampok bank hanya dengan melumuri wajahnya dengan air lemon. Apa yang membuatnya yakin sukses merampok bank, padahal tak punya pengetahuan tentang kimia?
Hasil penelitian mereka menunjukkan, dalam konteks psikologis, makin minim pengetahuan atau pengalaman seseorang di suatu bidang, justru makin tinggi rasa percaya diri. Bahkan level kepedeannya, melebihi para ahli. Orang-orang menengah, justru rasa percaya dirinya paling rendah. Para ahli, justru tak sepede dengan orang-orang minim pengetahuan ini. Fenomena ini dikenal dengan Dunning-Kruger effect.
Mereka yang minim pengetahuan, makin mendapat angin segar dan panggung yang lapang dengan adanya media sosial. Dengan mudah, kita bisa pungut pendapat ngawur dan hoax bertebaran di beranda media sosial. Salah satu contoh misalnya ada yang mengatakan, Yunani bangkrut karena di Athena, satu-satunya ibukota negara di Eropa, yang tak punya masjid. Penebar opini itu biasanya memang bukan mereka yang memiliki pengetahuan nanggung apalagi pakar.
Ini selaras dengan perkataan Charles Darwin; Kebodohan lebih banyak melahirkan rasa percaya diri, dibanding dengan pengetahuan. Merasa paling benar dan paling ngerti, adalah awal kebodohan ini.
Ya, pada awalnya memang karena perasaan.
Pantesan muslim itu pede banget kalo dia paling bener. Ternyata memang betul karena pengetahuannya sangat kurang atau NOL besar.
KEYAKINAN IBNU SINA TENTANG NABI DAN RASUL
Rasul-Rasul dan Nabi-nabi menurut Ibnu Sina adalah bualan semata dan bukan utusan dari Allah Subhana wa Ta’ala. Para Nabi dan Rasul mempunyai 3 karakteristik, jika hal ini ada maka ia (menurut Ibnu Sina.ed) Nabi :
Rasul-Rasul dan Nabi-nabi menurut Ibnu Sina adalah bualan semata dan bukan utusan dari Allah Subhana wa Ta’ala. Para Nabi dan Rasul mempunyai 3 karakteristik, jika hal ini ada maka ia (menurut Ibnu Sina.ed) Nabi :
1. Kekuatan menduga (mengetahui perkara berdasarkan pcrkiraan) hingga ia tahu dengan cepat batas pertengahan dari Sesuatu.
2. Kekuatan mengkhayal, seperti para Nabi mengkhayalkan bentuk cahaya serta cahaya itu dapat bercakap dengan dia dan ia dapat mendengar (cahaya yang dimaksud ialah Malaikat).
3. Kekuatan untuk mempengaruhi orang, dan ini dilakukan semata-mata dengan jiwa.