Kisah berikut dijamin juga lucu.
Sumber : The Beginning and the End. Ibn Kathir, Chapter Six, Entry title: "The Conversation of the Donkey"
Ketika Allah membuka Khaybar bagi Muhammad, dia menerima bagian rampasan perang, yaitu 4 domba, 4 kambing, 10 poci berisi emas dan perak, dan seekor keledai yang kurus.
Rasullulah bertanya kepada sang keledai, “Siapa namamu?” Si keledai menjawab, “Yazid Ibn Shihab. Allah telah menganugerahi 60 pendahuluku, semuanya ditunggangi oleh nabi. Tidak ada keturunan dari kakekku yang masih hidup kecuali aku, dan tidak ada nabi yang masih ada kecuali kamu dan aku mengharapkan kamu untuk menunggangi aku.
Sebelum kamu, aku dimiliki oleh seorang Yahudi, yang telah sering aku buat terjatuh, jadi dia sering menendang perutku dan memukuli punggungku. Rasulullah berkata kepadanya, “Aku akan memanggilmu Ya’foor, Oh Ya’foor”.
Rasullulah bertanya kepada sang keledai, “Siapa namamu?” Si keledai menjawab, “Yazid Ibn Shihab. Allah telah menganugerahi 60 pendahuluku, semuanya ditunggangi oleh nabi. Tidak ada keturunan dari kakekku yang masih hidup kecuali aku, dan tidak ada nabi yang masih ada kecuali kamu dan aku mengharapkan kamu untuk menunggangi aku.
Sebelum kamu, aku dimiliki oleh seorang Yahudi, yang telah sering aku buat terjatuh, jadi dia sering menendang perutku dan memukuli punggungku. Rasulullah berkata kepadanya, “Aku akan memanggilmu Ya’foor, Oh Ya’foor”.
Kemudian Ya’foor menjawab, “Aku patuh”. Rasulullah kemudian bertanya, “Apakah kamu menginginkan keledai betina?” Si keledai menjawab, “Tidak”.
Makanya Rasulullah sering menunggangi keledai itu dalam perjalanannyanya dan jika Rasulullah turun darinya maka beliau akan mengirimnya ke rumah yang mau disinggahinya dan Ya’foor akan mengetuk pintu dengan kepalanya.
Ketika pemilik rumah membuka pintu, Ya’foor akan memberi tanda kepada pemilik rumah agar menjumpai Rasulullah.
Ketika Rasulullah meninggal, Ya’foor pergi ke sumur milik Abu Al-Haytam Ibn Al-Tahyan dan menceburkan dirinya kedalam sumur karena kesedihannya akibat meninggalnya Rasulullah, dan menjadikan sumur itu kuburannya.
Makanya Rasulullah sering menunggangi keledai itu dalam perjalanannyanya dan jika Rasulullah turun darinya maka beliau akan mengirimnya ke rumah yang mau disinggahinya dan Ya’foor akan mengetuk pintu dengan kepalanya.
Ketika pemilik rumah membuka pintu, Ya’foor akan memberi tanda kepada pemilik rumah agar menjumpai Rasulullah.
Ketika Rasulullah meninggal, Ya’foor pergi ke sumur milik Abu Al-Haytam Ibn Al-Tahyan dan menceburkan dirinya kedalam sumur karena kesedihannya akibat meninggalnya Rasulullah, dan menjadikan sumur itu kuburannya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan 2 hal yaitu:
• Hal yang menyedihkan adalah karena Ya’foor yang telah berdakwah tentang Muhammad SAW ternyata membunuh dirinya sendiri dan dia harus masuk neraka menurut ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini,
- QS 4: 29: …Dan janganlah kamu membunuh dirimu [287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
- QS 4: 29: …Dan janganlah kamu membunuh dirimu [287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
- QS 4: 30: Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
• Sementara hal yang menggelikan
- Percakapan antara Muhammad SAW dengan si keledai Ya'foor lagi-lagi nyerempet seputar keledai betina. Heran yah, selalu yang dibicarakan soal makhluk berkelamin perempuan. Jangan-jangan kalau si keledai Ya'foor mau keledai betina, bakal dicariin sama Muhammad SAW keledai betina yang baru berumur 9 hari, kayak Aisha yg berumur 9 tahun.
- Sang keledai mempunyai nama seperti nama Arab yaitu Yazid ibn Shihab. Tampaknya masyarakat keledai juga mengikuti pola paternalistic yaitu mengikuti garis ayah. Hahahaaa….
- Sang keledai mengetahui bahwa 60 leluhurnya semuanya ditunggangi oleh nabi. Luar biasa, bagaimana caranya sang keledai meneruskan daftar keturunan itu kepada keledai berikutnya. Sedangkan manusia saja paling- paling hanya mengetahui daftar keturunan hingga 5–6 generasi diatas, menurut tradisi Jawa: ayah– kakek–buyut–cicit–canggah.
Hal ini tidak mengherankan karena menurut Al-Qur’an, binatangpun memiliki tradisi masyarakat seperti manusia.
- QS 6: 38: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu.
Jadi tidak mengherankan mereka punya nama mengikuti garis keturunan ayah, bahkan mencatat daftar keturunan mereka. Luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar